Pendahuluan
WMO (World Meteorological Organization) mengkonfirmasi bahwa tahun 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu global 1.60°C di atas level pra industry, > 1,50 C dalam kesepakatan perjanjian Paris.
Menurut WHO, polusi udara menyebabkan sekitar 7 juta kematian prematur per tahun secara global. Dan 80% polusi udara karena pembakaran bahan bakar fosil.
Kemudian populasi satwa liar global (mamalia, burung, ikan, dll.) telah menurun rata- rata 68% sejak 1970. Lebih dari 500 spesies hewan darat kini di ambang kepunahan.
Sekitar 14 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahun. Sebanyak 91% plastik yang pernah diproduksi tidak didaur ulang dan akan bertahan selama berabad-abad. Itu fakta di dunia global.
Di Indonesia deforestasi dan kerusakan hutan itu sudah terjadi sejak tahun 2000. Jutaan hektar hutan hilang. Sudah lebih dari 9 juta hektar hutan yang hilang. Lebih dari 60 persen sungai besar tercemar.
Suhu rata-rata Indonesia diproyeksikan naik lebih dari 1,3 derajat sejak tahun 2020 sampai nanti tahun 2049. Kenaikan permukaan laut juga mengancam, dengan laju sekitar 0,3 sampai 0,5 cm per tahun di perairan Indonesia. Itu fakta yang dunia baik global maupun Indonesia yang kita hadapi bersama.
Peran Strategis Pendidikan Islam
|
No |
Poin Strategis Pendidikan Islam |
Implementasi Dalam Pendidikan Islam |
|
1 |
Menanamkan Kesadaran sebagai Khalifah |
Mengajarkan bahwa menjaga alam adalah ibadah dan bentuk ketakwaan, bukan sekadar aktivitas sekuler. |
|
2 |
Mengintegrasikan Spiritualitas dengan Etika Lingkungan |
Membangun etika ekologis berbasis spiritual, menghubungkan kesalehan pribadi dengan tanggung jawab pada alam. |
|
3 |
Menjawab Krisis Lingkungan sebagai Krisis Spiritual |
Pendidikan sebagai sarana restorasi spiritual dan koreksi pandangan dunia (worldview) yang antroposentris menjadi teosentris. |
|
4 |
Merevitalisasi dan Mengkontekstualisasikan Warisan Ilmu Islam |
Menggali dan menghidupkan kembali ajaran ulama klasik tentang lingkungan dalam kurikulum modern. |
|
5 |
Mentransformasi Kurikulum dan Metode Pembelajaran |
Integrasi isu lingkungan ke dalam mata pelajaran agama (tafsir, fiqih, akhlak, sejarah). Metode pembelajaran kontekstual dan aksi nyata (seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah). |
|
6 |
Membangun Ketahanan dan Solusi Komunitas Religius |
Memberdayakan komunitas (pesantren, majelis taklim) sebagai model dan agen perubahan lingkungan di tingkat lokal. |
Dalam pendidikan Islam kalau soal bicara firman, bicara hadith, semuanya sahih. Semuanya pasti paham betul di luar kepala. Kalau ada terjadi kerusakan semuanya bisa bersuara vokal.
Tapi di dalam kenyataan, di dalam pendidikan Islam bahwa kurikulum kita itu belum mengintegrasikan, yang namanya pesan-pesan Al-Qur’an dan Al-Hadith dengan bagaimana kita menyelamatkan lingkungan itu, belum terintegrasikan.
Sudah banyak yang bicara tentang pesan-pesan dalam Al Qur’an dan hadits ini, tinggal bagaimana kita mengimplementasikan bahwa kurikulum kita itu sudah harus lebih maju. Harus kita reformasi supaya betul-betul memberikan pemahaman yang utuh kepada anak-anak kita.
Kita tidak hanya menghafal ayat-ayat Al-Quran tetapi bagaimana ikut berkontribusi di dalam menyelamatkan lingkungan, baik dalam bentuk pemberian pemahaman maupun dalam bentuk praktek yang nyata. Itu yang penting.
Relevansi Dengan Nilai-Nilai Islam
Penerbitan buku Tafsir Ayat-Ayat Ekologi: Membangun Kesadaran Ekoteologis Berbasis Al Qur’an oleh Kementerian Agama tahun 2025 perlu disambut dengan positif. Karena ini relevan dengan permasalahan yang kita hadapi, yaitu masalah ekologi dan kemanusiaan.
Buku ini relevan dengan nilai-nilai Islam karena buku ini menyatukan Teks Ilahi dan Kesadaran Ekologis adalah pendekatan penafsiran ajaran Islam yang menempatkan isu lingkungan hidup sebagai bagian integral dari pesan ketuhanan.
-
Kerusakan alam sebagai krisis spiritual. Krisis ekologis yang melanda dunia saat ini, termasuk Indonesia, tidak hanya merupakan masalah teknis, politik, atau ekonomi, melainkan juga cerminan krisis spiritual manusia. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rum/30: 41)
-
Konsep ekoteologi dalam Al Quran sudah jelas yaitu bagaimana memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta secara integrative. Dalam perspektif Islam, hubungan ini terjalin dalam kerangka tauhid, yakni pengesaan Tuhan yang mencakup keesaan penciptaan (al-Khalq), kepemilikan (al-Malik) dan pengaturan (at Tadbir). Ekoteologi berdiri di atas tiga pilar, yaitu Tauhid (kesatuan Tuhan dan penciptaan), Khalifah (kepemimpinan etis manusia), dan Adalah (keadilan lingkungan). Ketiganya membentuk landasan moral yang kuat untuk mengatasi kerusakan ekologis yang melanda dunia. Konsep ini diperkuat oleh prinsip mizan (keseimbangan)
-
Penerapan ekoteologis dalam tafsir Al Quran menempatkan ayat-ayat tentang ciptaan Tuhan dalam kerangka tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, yang berkewajiban menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, bukan merusaknya. Karena itu solusi terhadap krisis ekologis, tidak cukup hanya dengan pendekatan teknokratik atau regulasi, tetapi harus menyentuh akar spiritual dan moral manusia.
Dunia pendidikan harus ikut berkontribusi untuk menyelamatkan bumi ini, antara lain yang paling sederhana Adalah dengan mengajak anak-anak kita mencintai alam ini dengan menanam. Siswa di sekolah, madrasah dan pesantren disuruh tanam satu pohon.
Itu hal-hal yang sederhana kalau sekian ribu santri, sekian juta santri di Indonesia setiap tahun itu akan ada tanaman pohon-pohon baru yang ikut menyelamatkan bumi ini.
Itu salah satu contoh peran kita umat Islam di dalam dunia pendidikan itu langsung berkorelasi positif terhadap menyelamatkan bumi. Itu yang paling penting.
Oleh karenanya ini tidak hanya dilakukan oleh Ummusshabari Kendari, tetapi juga harus dilakukan oleh semua madrasah, sekolah dan pondok pesantren. Lembaga-lembaga pendidikan, baik itu pendidikan umum, maupun pendidikan agama, harus mau melakukan ini. Ini mau gak mau, suka gak suka harus menanam. Kita berharap agar GUPPI bisa menjadi motor Gerakan ini. Karena itu perlu disiapkan contoh seratus madrasah, sekolah dan pondok pesantren di GUPPI.
Bagaimana kita mengintegrasikan kurikulum itu dengan menyiapkan guru-guru yang sudah punya ilmu yang terkait dengan substansi untuk melestarikan lingkungan. Jadi tidak hanya menghapal ayat saja.
Kita ini terlalu banyak pesantren hafal Al Qur’an, tapi tidak ada tahu bagaimana mengimplementasikan isi Al-Qur’an itu. Jadi banyak yang hafal, tapi soal adab pun kadang-kadang kita tidak kita berikan contoh yang bagus.
Dulu, kita dengan orang tua, kita dengan guru, kalau gurunya duduk di atas, kita duduk di bawah. Kalau sekarang gurunya duduk di bawah, muridnya duduk di kursi. Jadi artinya apa? Keteladanan sudah tidak ada, pendidikan karakter sudah hilang.
Urgensi Pembaruan Pendidikan Islam Dalam Konteks Ekologis
|
ANTROPOSENTRISME
|
TEO-ANTROPO-EKOSENTRIS
|
HIFZH AL –BI’AH
|
|
Dalam konteks krisis ekologi global, pendidikan Islam dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk meninggalkan paradigma antroposentrisme (yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam untuk dieksploitasi)
|
Dunia Pendidikan Islam perlu berubah kepada paradigma yang integrative (teo-antropo ekosentris): yaitu paradigma memulihkan konsep “Khalifah” yang otentik, di mana manusia adalah wakil Tuhan dengan amanah mulia untuk memakmurkan dan memelihara bumi (istikhlaf), bukan mengeksploitasinya.
|
Pergeseran ini menjadikan perlindungan lingkungan (hifzhal bi’ah) sebagai tujuan syariah yang setara dengan perlindungan jiwa, agama, dan akal, sehingga merespons krisis ekologi menjadi bagian dari komitmen keimanan
|
Ada dua tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga harmoni alam :
1.Dualisme Kurikulum dan Metode Pengajaran.
a. Pemisahan Disiplin Ilmu: Kurikulum pendidikan Islam tradisional memisahkan ilmu agama dan sains lingkungan.
b.Kurangnya Integrasi: Konsep ekologi Islam tidak terstruktur dalam pembelajaran sistematis.
c. Kurikulum Madrasah: Madrasah belum mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kurikulum inti.
d. Implikasi: Lulusan memiliki pengetahuan agama kuat tetapi kesadaran ekologis lemah.
e. Pendekatan Dogmatis: Pengajaran nilai-nilai lingkungan, masih bersifat teoritis dan normatif, tanpa konteks aplikatif.
f. Kurang Experiential Learning: Minim pembelajaran lapangan, observasi ekosistem, dan proyek lingkungan.
g. Gap Generasi: Metode ceramah konvensional tidak efektif bagi generasi digital native.
2. Disorientasi Nilai dan Keterbatasan Infrastruktur/SDM
a. Dominasi Paradigma Antroposentris: Manusia sebagai pusat vs. konsep khalifah sebagai pemelihara.
b. Konsumerisme vs. Kesederhanaan: Budaya israf (berlebihan) bertentangan dengan prinsip zuhud dan keberlanjutan.
c. Krisis Spiritual-Ekologis: Degradasi lingkungan sebagai manifestasi krisis spiritual (QS Ar-Rum: 41).
d. Keterbatasan Fasilitas: Madrasah/pesantren dengan akses terbatas ke sumber daya pendidikan lingkungan.
e. Kapasitas Pendidik: Guru agama dengan kompetensi ekologis terbatas.
f. Minimnya Kolaborasi: Keterpisahan antara lembaga pendidikan Islam dan organisasi lingkungan
Bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai teologis dan nilai-niai ekologis ?


STUDI KASUS INTERNASIONAL
Beberapa negara dapat dijadikan contoh bagaimana mereka menjaga ekologi dengan baik.
Maroko membuat program “Madrasah Hijau” dengan kurikulum integratif dan infrastruktur ramah lingkungan.
Turki membuat Program “Eco-Madrasahs” dengan sertifikasi nasional untuk sekolah Islam ramah lingkungan.
Malaysia melakukan integrasi konsep maqasid syariah (tujuan syariah) dalam pendidikan lingkungan di universitas Islam.
ROADMAP 5 TAHUN PENDIDIKAN EKOLOGI ISLAM
Untuk mendapatkan lingkungan alam yang hijau, aman dan damai tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Diperlukan perencanaan yang matang dan konsistensi dalam menjaga progam tersebut agar tetap berjalan dengan baik.
|
TAHUN
|
AGENDA
|
|
TH.1 – 2026
|
1. Penyusunan Kurikulum Nasional – pilot Project 10 Madrasah
2. Pelatihan Guru Inti
|
|
TH. 2-3 (2027-2028)
|
1. Replikasi ke 100 Madrasah. Sertifikasi “Madrasah Hijau”
2. Pengembangan Materi Digital
|
|
TH. 4 – 2029
|
1. Evaluasi Nasional (Perbaikan Kurikulum)
2. Ekspansi ke Pesantren
|
|
TH. 5 – 2030
|
1. Ekspansi Nasional (Kerjasama Internasional)
2. Sistem Monitoring Berkelanjutan
|
KESIMPULAN
-
Telah terjadi kerusakan lingkungan baik secara global maupun lokal yang berdampak serius pada krisis iklim, bencana ekologis, menurunnya kualitas hidup manusia, serta terancamnya keberlanjutan generasi mendatang.
-
Pendidikan Islam memiliki relevansi kuat dalam memelihara ekologi dan lingkungan melalui nilai-nilai tauhid, amanah, khalifah, keadilan, dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.
-
Pendidikan Islam perlu diperbarui agar tetap kontekstual dan responsif terhadap persoalan ekologis, meskipun menghadapi tantangan kurikulum, kapasitas pendidik, dan integrasi ilmu keislaman dengan sains lingkungan.
-
Oleh karena itu, diperlukan penyusunan roadmap pendidikan ekologi Islam yang terarah dan terukur untuk lima tahun ke depan guna membangun kesadaran, kompetensi, dan aksi nyata pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai Islam
Disampaikan dalam Acara Dialog Publik Silaturahmi Nasional GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.
Dr. Marzuki Alie adalah Rektor Universitas Indo Global Mandiri Palembang. Wakil Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.
(sumber :
https://www.guppi.or.id/ dengan judul "
Tantangan Pendidikan Islam Dalam Membangun Kesadaran Ekologis")