Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

Rekonstruksi Kebijakan Pendidikan Nasional
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
KEDAULATAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI PEMBANGUNAN INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013
Oleh : Marzuki Alie Center
INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
Komitmen Antikorupsi Parlemen ASEAN
Oleh : Oleh Dr. H. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

BERITA

Politik Luar Negeri Jokowi

2014-10-22 08:12:05
Images
Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Sukma yakin Presiden Joko Widodo bersama wakilnya, Jusuf Kalla dapat membangun politik luar negeri yang lebih konkret dari apa yang telah dijalankan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Politik luar negeri yang dibangun Jokowi-JK diyakininya tidak hanya untuk pencitraan, melainkan dapat membawa dampak yang nyata dan dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat Indonesia. "Pak Jokowi akan melakukan politik luar negeri yang konkret. Politik luar negeri itu memang harus bermanfaat," kata Rizal kepada Kompas.com, di kantornya, Jalan Tanah Abang III Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2014).

Rizal menilai, politik luar negeri yang selama 10 tahun dibangun SBY hanya berdampak terhadap citra Indonesia dan dirinya di mata internasional. Akibatnya, masyarakat tidak dapat secara langsung manfaat dari politik luar negeri yang dilakukan. "Membangun citra penting, tapi bagaimana mengukur sejauh mana citra itu berdampak positif terhadap agenda real dalam negeri, agak susah," tambah Rizal.

Cara SBY itu, menurut Rizal, meleset dari amanat konstitusi. Menurut dia, dalam konstitusi diatur bahwa politik luar negeri adalah alat bagi negara untuk mendapatkan keuntungan dari negara lain. "Politik luar negeri harusnya dijadikan alat untuk memanfaatkan sumber daya atau peluang-peluang yang ada di luar untuk kepentingan dalam negeri," ujarnya.

Dengan kemampuan persuasi Jokowi, Rizal meyakini mantan Gubernur DKI Jakarta itu bisa mengubah gaya politik luar negeri yang selama ini dibangun SBY. Dengan begitu, tak lama lagi masyarakat Indonesia dapat merasakan manfaat dari hubungan bilateral yang dibangun.

Penampilan Jokowi yang Pilih Berbatik 
Di hari pertamanya sebagai presiden, Joko Widodo langsung tancap gas dengan menerima empat pimpinan negara sekaligus. Namun, ada yang berbeda dari penampilan Jokowi, jika dibandingkan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. SBY selalu terlihat mengenakan pakaian formal berupa jas dan dasi, sementara Jokowi memilih berkemeja putih andalannya atau memakai kemeja batik.

Ihsanuddin Direktur Eksekutif CSIS Rizal Sukma Saat bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan Perdana Menteri Malaysia Datuk Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak, Jokowi mengenakan kemeja putih lengan panjang yang biasa digunakannya sehari-hari. Saat menerima Perdana Menteri Australia Tony Abbot dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, Jokowi memilih mengenakan kemeja batik. Berpengaruhkah penampilan Jokowi terhadap kualitas hubungan luar negeri yang akan dibangun?

"Tidak masalah, justru itu membuat tamu asing yang tadinya berharap memasuki suasana formal, ternyata mendapatkan suasana yang sangat cair," kata Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Sukma, di kantornya, Jalan Tanah Abang III Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2014).

Menurut Rizal, suasana yang cair tersebut justru akan memberikan kenyamanan saat kedua pimpinan negara berbincang.  "Itu hal yang harus diteruskan, kecuali pada saat yang benar-benar formal seperti pelantikan kemarin, toh Pak Jokowi juga pakai jas dan dasi," ujar Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri PP Muhamadiyah ini.

Selain dapat mencairkan suasana, menurut Rizal, pemakaian batik dalam pertemuan internasional juga bisa mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia. Hal tersebut, kata dia, lazim dilakukan oleh negara-negara asia lain seperti Filipina dan Myanmar. "Filipina biasa saja, mereka sering pakai barong. Myamnar pemimpinnya sering pakai sarung. Kita juga harusnya bangga pakai batik, batik kan keren," kata Rizal.

KOMPAS



KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000