Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

MINTA MAAF DAN MUNDUR?
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
KONSISTENSI BERPOLITIK
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
KSP MOELDOKO?
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
DULU CIUM TANGAN, SEKARANG MENUSUK DARI BELAKANG?
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
Rekonstruksi Kebijakan Pendidikan Nasional
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

BERITA

Presiden SBY Terima World Statesman Award 2013

2013-06-01 06:51:00
Images
Atas nama masyarakat Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima 2013 World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (AoCF) di Garden Foyer, Hotel The Pierre, New York, Amerika Serikat, Kamis (30/5) malam waktu setempat atau Jumat (31/5) pagi WIB. "Kami menganugerahkan 2013 Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden dari negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang dipilih secara langsung, yang diakui atas upayanya mengejar perdamaian dan membantu Indonesia berkembang menjadi masyarakat demokratis, dan melawan ekstrimisme," kata Rabbi Arthur Schneier, pemimpin Appeal of Conscience Foundation.

"Penghargaan ini adalah pengakuan atas prestasinya dalam upaya internasional untuk memelihara perdamaian bersama dan adalah dorongan untuk meningkatkan hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan kerja sama antar agama," lanjut Rabbi Arthur Schneier.

Presiden SBY mengucapkan terima kasih atas penghargaan tersebut. "Semoga penghargaan ini memberikan momentum kepada kami untuk melanjutkan upaya dalam mempromosikan kemanusiaan dan kebaikan bersama. Semoga kerja keras masyarakat Indonesia memacu kami untuk meraih mimpi-mimpi Bapak Bangsa, sebuah masyarakat yang harmonis dalam perdamaian dan kemakmuran," seru SBY.

Menurut Presiden, seorang negarawan bekerja untuk mengejar apa yang ia percayai kebenarannya dan bukan berdasarkan kepopuleran menurut hasil survei. "Pekerjaannya melampaui politik dalam mengambil resiko dan menghadapi tantangan," ujar SBY. "Kenegarawanan tidak selalu hanya dilakukan oleh perseorangan. Kenegarawanan bisa bersifat kolektif. Dan ini adalah kolektif kenegarawanan masyarakat Indonesia yang dalam perjalanannya membuat Indonesia maju dan makmur," SBY menjelaskan.

Selain Presiden SBY, penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada Presiden Perancis Nicholas Sarkozy, PM Jerman Angela Merkel, Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, dan Presiden Mikhail Gorbachev.

Usai penganugerahan penghargaan, acara dilanjutkan dengan santap malam. Hadir antara lain, Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhyono, Henry Kissinger, Ketua Komunitas Muslim New York Imam Shamsi Ali, Archbishop Khajag Barsamian, dan Rev Fred Anderson.

Motivasi dan Cambuk untuk Berbuat Lebih Baik Lagi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memaknai penghargaan World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (AoCF) yang diterimanya semalam sebagai sebuah motivasi dan cambuk untuk berbuat lebih baik lagi. "Kepada seluruh pemuka agama dan rakyat Indonesia, ayo kita perbaiki yang belum baik di negara kita," ujar SBY saat menyampaikan keterangan pers tentang hasil kunjungan kerja di Amerika Serikat, di Ruang Riverview, Hotel One UN, New York, Jumat (31/5) pagi waktu setempat atau malam WIB. “Saya juga mendengar dari kalangan kita yang tidak setuju, yang melakukan protes. Saya menghormati dan menghargai pandangan-pandangan itu. Itulah demokrasi, itulah kebebasan berpendapat dan berbicara. Saya persilakan. Sementara itu, saya juga mendapatkan ucapan selamat tertulis yang cukup banyak dari dalam negeri, yang mendukung dan memberikan selamat serta ikut bersyukur atas penghargaan tersebut,” terang SBY.

Bagi Presiden SBY, disamping banyak capaian, masih banyak juga pekerjaan rumah pemerintah yang menyangkut harmoni atar peradaban, antar komponen bangsa di Indonesia, termasuk antar umat beragama, juga toleransi, perlindungan bagi mereka untuk menjalankan hak-hak politiknya, termasuk hak untuk beribadah. “Saya harus akui di sana-sini masih ada kekurangan. Tapi kalau kita bandingkan dengan situasi 1998, 1999, 2000 dan 2001, saya tidak terhitung jumlahnya keluar masuk Poso, Sampit, Ambon, dan sebagainya. Situasinya tentu kita syukuri berbeda, juga dibandingkan dengan negara-negara lain yang masih sangat mengemuka konflik komunal dan konflik sosial. Anggaplah itu cambuk, sarana untuk memotivasi kita untuk berbuat lebih. Pikiran, statement, kebijakan, dan langkah-langkah saya sejak tahun 2004 adalah untuk betul-betul bisa melakukan kerukunan hidup antar umat beragama, saling menghormati dan menghargai,” tambahnya.

“Ketika ada konflik, dalam sidang kabinet saya keras sebetulnya. Gubernur, bupati, walikota jangan diam saja, lakukan sesuatu. Kepolisian, penegak hukum, dan aparat keamanan lakukan sesuatu. Kita harus melindungi saudara-saudara kita yang terganggu haknya untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing,” SBY menjelaskan.

Sekali lagi, Presiden SBY mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama memperbaiki keadaan yang belum baik di Indonesia. Mendampingi Presiden SBY saat memberikan keterangan pers antara lain, Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono, Memperin MS Hidayat, Wakil Tetap RI/Duta Besar untuk PBB di New York Desra Percaya, Dubes Indonesia untuk Amerika Dino Patti Djalal, Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar, Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto, anggota DPR RI Agus Abstian dan Muhammad Arwani Thomafi, serta anggota DPD Mervin Sadipun Komber.

Demokrasi Indonesia adalah Proses yang Berkelanjutan
Demokrasi Indonesia tetap merupakan satu proses yang berkelanjutan. "Kebangsaan kami terus menerus diuji. Menjaga perdamaian, tata tertib, dan harmoni adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan secara sambil lalu," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya pada santap malam penganugerahan World Statesman Award di Grand Ballroom, Hotel The Pierre, New York, Amerika Serikat, Kamis (30/5) malam waktu setempat atau Jumat (31/5) pagi WIB. Di awal transisi demokratis Indonesia 15 tahun yang lalu, Indonesia mengalami krisis multidimensional. “Keruntuhan ekonomi. Ketidakstabilan politik. Kerusuhan sosial. Separatisme. Konflik komunal. Kekerasan antar-etnis. Terorisme. Situasi sedemikian parahnya sehingga Indonesia diprediksi akan menjadi Balkan yang baru, hancur berkeping-keping,” ujar SBY.

“Tetapi bangsa Indonesia dengan gigih menantang skenario kehancuran tersebut. Kami menyelesaikan permasalahan satu per satu. Kami menyelesaikan konflik separatisme di Aceh yang telah berlangsung selama 30 tahun. Kami memperbaiki hubungan dengan Timor-Leste. Kami mengembalikan stabilitas politik. Kami memperkuat institusi-institusi demokrasi kami. Kami memberlakukan hukum untuk mengakhiri diskriminasi di Indonesia,” SBY menjelaskan.

Ekonomi Indonesia yang pernah sakit telah pulih dan menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dengan tingkat pertumbuhan tercepat kedua di Asia setelah Tiongkok. “Dan masyarakat madani yang berkembang menjadi sandaran demokrasi kami. Indonesia pun kemudian sering disebut sebagai salah satu kisah transformasi yang paling berhasil di Abad ke-21,” lanjutnya. Namun hingga saat ini Indonesia masih tetap menghadapi sejumlah tantangan. “Kantung-kantung intoleransi tetap ada. Konflik komunal terkadang masih mudah tersulut. Sensitivitas keagamaan kadangkala menimbulkan perselisihan, dimana kelompok-kelompok masyarakat mengambil tindakan secara sepihak. Riak radikalisme masih tetap ada. Hal ini, saya yakini, bukan merupakan permasalahan yang hanya dihadapi oleh Indonesia, tetapi merupakan fenomena global,” terang SBY.

“Sejatinya, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan. Kami harus terus memajukan transformasi Indonesia seraya mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Bersamaan dengan kemajuan ke depan kami, kami tidak akan mentolerir setiap bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kelompok manapun dengan mengatasnamakan agama. Kami tidak akan membiarkan penodaan tempat-tempat ibadah agama manapun atas alasan apapun. Kami akan selalu melindungi kaum minoritas dan memastikan tidak ada yang terdiskriminasi. Kami akan memastikan bahwa mereka yang melanggar hak-hak orang lain akan diganjar hukuman yang setimpal,” seru Presiden SBY.

Indonesia akan melakukan berdasarkan kemampuan untuk memastikan bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan kelompok etnis, serta semua umat beragama—Muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya—dapat hidup berdampingan dalam kebebasan dan persaudaraan,” kata SBY. “Indonesia akan senantiasa menjadi negara dimana terdapat rumah tempat ibadah yang berlimpah. Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 255.000 mesjid. Kami juga memiliki lebih dari 13.000 pura Hindu, sekitar 2.000 kuil Budha, dan lebih dari 1.300 kuil Konghucu. Dan—hal ini mungkin akan mengejutkan bagi anda—kami memiliki lebih dari 61.000 gereja di Indonesia, lebih banyak dibandingkan di Inggris Raya atau Jerman. Dan banyak dari tempat-tempat ibadah ini dapat ditemui di sepanjang jalan yang sama. Di lingkungan eksternal, Indonesia juga akan terus menjadi kekuatan bagi perdamaian dan kemajuan,” jelas Presiden SBY.

PRES



KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000