Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

MINTA MAAF DAN MUNDUR?
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
KONSISTENSI BERPOLITIK
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
KSP MOELDOKO?
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
DULU CIUM TANGAN, SEKARANG MENUSUK DARI BELAKANG?
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
Rekonstruksi Kebijakan Pendidikan Nasional
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

BERITA

Facebook cs Juga Dibidik Bangun Data Center di Indonesia

2012-12-19 11:09:53
Images
Jakarta - Tak hanya Research In Motion (RIM) dan Google saja yang diwajibkan untuk membangun data centernya di Indonesia. Namun seluruh pemain OTT (over-the-top) besar milik asing seperti Facebook, Skype, WhatsApp, dan lainnya juga akan ditarget.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengatakan aturan hukum soal OTT di Indonesia masih dalam taraf pengkajian. Sebab, OTT ini masih belum jelas definisinya, apakah masuk dalam katagori sebagai network provider ataukah service provider.

Jika OTT ini sebagai service provider maka harus didefinisikan lagi, apakah OTT ini sebagai internet service provider (ISP), network access provider (NAP), penyelenggara internet teleponi (VoIP/ITKP), komunikasi data, atau lainnya.

Namun menurut BRTI, jika berdasarkan aturan yang ada dalam Peraturan Pemerintah No. 82/2012, maka penyelanggara sistem elektronik untuk kepentingan publik harus menempatkan data center dan data recovery center-nya di Indonesia.

"Jadi untuk tahap awal, OTT ini harus menempatkan data centernya di Indonesia," kata Fetty Fajriati Miftach, Anggota Komite BRTI, dalam acara 'OTT: Friend or Foe?' di Balai Kartini, Jakarta.

Sementara jika ada layanan OTT yang melakukan terminasi pada layanan voice atau SMS di jaringan tetap atau seluler, lanjutnya, maka OTT juga harus mengikuti aturan yang sama dengan operator telekomunikasi, yakni interkoneksi berbasis biaya.

Seperti diketahui, Facebook yang memiliki lebih dari satu miliar pengguna mencatatkan jumlah pendapatan sebesar USD 1,58 miliar di kuartal ketiga 2012. Menurut Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Alex Janangkih Sinaga, itu artinya setiap pengguna jejaring sosial terbesar di dunia itu telah memberikan kontribusi pendapatan (average revenue per user/ARPU) sekitar USD 0,42.

"Jika di Indonesia sedikitnya ada 50 juta pengguna Facebook, itu sama saja kita memberikan kontribusi revenue USD 252 juta setiap tahun ke Facebook," kata Alex yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Telkomsel.

Facebook merupakan salah satu pemain OTT yang menggantungkan hidupnya di jaringan telekomunikasi operator. OTT lain yang juga dianggap sebagai 'ancaman', antara lain seperti BlackBerry Messenger yang memiliki 60 juta pelanggan, WhatsApp dengan 100 juta pengguna, Skype 800 juta pengguna, Yahoo Messenger 455 juta pengguna, dan Viber 50 juta pengguna.

Lembaga riset Ovum belum lama ini merilis studi yang menyebutkan pundi-pundi pendapatan operator telekomunikasi di seluruh dunia bisa tergerus USD 23 miliar atau sekitar Rp 220 triliun di tahun 2012 ini gara-gara OTT.

Angka potential lost ini diprediksi masih akan terus meningkat dari tahun ke tahun dan mencapai puncaknya di 2016 dengan hilangnya pendapatan berkisar USD 58 miliar atau sekitar Rp 555 triliun.

KlikIndonesia juga sempat merilis data, setiap tahunnya Rp 1,5 triliun devisa Indonesia lari keluar negeri karena pengguna internet lebih suka mengklik konten asal luar negeri yang disediakan oleh OTT asing ini.


Menurut Fetty, BRTI dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sebenarnya sudah merasakan kekhawatiran operator akan geliat OTT sejak 2011 lalu.

Kegetiran yang kian membuncah ini juga sempat menawarkan solusi berupa interkoneksi antara operator dan pemain OTT yang rencananya akan dikemas dalam pembuatan payung hukum regulasi.

Meskipun dianggap menarik dan cukup fair bagi kedua belah pihak, namun rencana aturan ini masih belum final. Penerapan interkoneksi antara operator dan OTT masih harus dipelajari lebih dalam dari sisi detail teknis dan pelaksanaannya sembari menunggu inisiasi yang dijalankan secara global.

Jika solusi interkoneksi ini diperlukan, maka penerapan business to business (B2B) antara operator telekomunikasi di Indonesia dan perusahaan OTT yang ada di luar negeri, atau sudah punya badan usaha di Indonesia, harus dalam kerangka regulasi nasional dengan memperhatikan perkembangan global.

Erik Meijer, Director & Chief Commercial Officer Indosat, menyatakan sinergi antara operator dan OTT harus dicari jalan tengahnya. Sebab tanpa adanya konten, jaringan data jadi tidak diperlukan.

"Namun jangan sampai bisnis model ini membuat kita tidak sanggup lagi ekspansi jaringan," ujarnya mengingatkan.

Sedangkan Syakieb Sungkar, Direktur Sales Axis Telecom, menilai OTT itu bukan sekedar value added services (VAS) saja. Karenanya, sinergi antara OTT dan operator menjadi sangat penting.

"Sinergi ini bisa merupakan kombinasi antara revenue sharing, retention program, co-branding, dan up-lift brand," katanya.

Sumber : Detik.com



KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000