Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

Rekonstruksi Kebijakan Pendidikan Nasional
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
KEDAULATAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI PEMBANGUNAN INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013
Oleh : Marzuki Alie Center
INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
Komitmen Antikorupsi Parlemen ASEAN
Oleh : Oleh Dr. H. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

TULISAN

INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA


Dr. H. Marzuki Alie

Konferensi Nasional Riset Manajemen VII di Palembang beberapa waktu yang lalu, menyadarkan kita bahwa masyarakat Indonesia harus lebih bersiap dalam menghadapi era global. Sebab, tepat setahun jelang diresmikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) pada 2015, masyarakat kita dinilai kurang siap. Keanggotaan Indonesia di G-20 tidak menjamin bangsa ini langsung siap menghadapi era global. Perlu inovasi kreatif untuk memacu kesiapannya.

Setiap organisasi masyarakat maupun masyarakat Indonesia sebagai unsur kekuatan sosial yang rasional dan mandiri, amat perlu meretas jalan bagi lahirnya “idiologi inovasi dan kreativitas”yang bersifat embedded dalam setiap proses transformasi. Sebab, inovasi dan kreativitas bukanlah sesuatu yang sifatnya given dalam setiap sistem sosial dan ekonomi apapun. Inovasi dan kreativitas merupakan sebuah proses melalui mana setiap individu atau kelompok individu menghasilkan suatu perubahan atau efek yang berarti baik, bagi kehidupan pribadi maupun orang lain. Menurut hemat saya, sejalan dengan pemikiran Thomas Kuhn misalnya, produk inovasi dan kreativitas, tidak terjadi secara random tetapi sebuah proses siklis yang berjalin-berkelindan. Dengan demikian, pandangan ini sekaligus menggugat sebuah “praksis sosial”sebagian masyarakat kita tentang adagium: “tiba masa, tiba akal”.

Saya juga meyakini segenap proses yang mendorong bagi lahirnya inovasi dan kreativitas tidaklah semata-mata sebagai produk yang dihasilkan oleh bakat individual. Sistem dan nilai-nilai sosial tertentu tetap memainkan peran penting dalam hal ini. Pendek kata, setiap struktur sosial berikut norma-norma maupun nilai-nilai yang dianut, merupakan parameter penting yang turut memberikan rambu-rambu dalam batas-batas mana setiap pribadi individu,dapat menghasilkan inovasi dan kreativitas. Dengan demikian, konsepsi kreativitas dan inovasi harus diletakkan dalam bingkai sebagai sebuah karya (construct) sosial dan historis.

Mandat Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kehidupan bernegara ditujukan dalam rangka memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebagai sebuah produk peradaban, kehadiran inovasi dan kreativitas yang dicetuskan oleh setiap aktor masyarakat dan organisasi secara kelembagaan menjadi satu pilar penting bagi peningkatan daya saing dan kemandirian ekonomi bangsa. Di sinilah titik irisan kepentingan antara penguatan proses transformasi organisasi dan masyarakat yang berbasis inovasi dan kreativitas dengan tujuan pembangunan ekonomi nasional ditemukan.

Pembangunan ekonomi nasional merupakan instrumen dalam mendorong penguatan produktivitas nasional. Keberhasilan penguatan yang berbasis inovasi dan kreativitas tersebut pada gilirannya akan berimplikasi positif terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Menyadari bahwa produktivitas inovasi dan kreativitas tidak akan bekerja sendiri betapapun kondusifnya sistem sosial dan ekonomi, peran aktor organisasional dan sosial bagi terciptanya produktivitas tersebut mutlak diperlukan. Konsekuensinya, agenda penguatan transformasi organisasi dan masyarakat berbasis inovasi dan kreativitas menjadi taruhan kepentingan nasional.

Indonesia telah tumbuh menjadi negara dengan tingkat perekonomian yang berpendapatan menengah. Perekonomian Indonesia tergolong sangat dinamis dan bahkan kini sedang berperan dalam kancah panggung politik dan ekonomi internasional melalui keanggotaannya di G-20 dan peran aktifnya di ASEAN. Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja perekonomian kita dapat dikatakan selalu positif. Untuk mengelola momentum seperti ini diperlukan kesiapan superstruktur yang memadai, yakni semangat transformatif semua komponen masyarakat dan kelembagaan untuk menumbuhkan inovasi dan kreativitas.

Namun demikian, kita harus mengakui bahwa struktur perekonomian nasional masih didominasi oleh struktur industri yang sifatnya belum intensive-technology. Konkretnya, pengembangan teknologi dan inovasi kreatif memang telah dikembangkan tetapi belum banyak yang terserap dalam pembangunan ekonomi. Situasi seperti ini menguatkan adagium bahwa Indonesia berada dalam situasi di mana terjadi fenomena ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri.

Pertanyaannya, pengembangan teknologi, inovasi akreatif seperti apa yang berperan dalam menopang pembangunan ekonomi secara kokoh ke depan?

Sejumlah parameter normatif misalnya, bahwa pengembangan teknologi dan inovasi kreatif harus (1) berkualitas; (2)  relevan terhadap kebutuhan nasional; (3) relevan terhadap tren global; dan (4) memiliki keterkaitan dengan pasar teknologi lokal dan internasional. Oleh karena itu, bagaimana memadukan semua unsur bauran parameter tersebut,menjadi pekerjaan besar kita dalam menyongsong rencana pembangunan jangka panjang nasional. Dalam kerangka inilah, sinergitas politik pembangunan dengan politik pengembangan teknologi, inovasi dan kreativitas menjadi sebuah keniscayaan.

Konstelasi globalisasi ekonomi dewasa ini telah melahirkan rezim ekonomi global yang  tidak kunjung bersifat inklusif dan adil bagi semua negara khususnya negara-negara berkembang. Pada saat yang sama, globalisasi ekonomi juga menawarkan peluang manfaat ekonomis yang bisa diraih semua bangsa. Dalam pemikiran seperti ini, proses transformasi organisasi dan masyarakat yang berbasis inovasi, kreativitas dan kemandiriaan tentunya menjadi kebutuhan strategis. Dalam konteks nasional, tiga alasan berikut dapat memperkuat hal ini.

Pertama,meminjam parameter Bank Dunia tentang konsepsi “indeks ekonomi berbasis pengetahuan”, yakni suatu indeks yang mengukur kemampuan setiap negara untuk menghasilkan dan menyebarkan pengetahuan. Nilai indeks Indonesia berada pada urutan ke-108 dari 146 negara yag disurvei pada tahun 2012. Sebagai perbandingan, Singapura menempati urutan ke-23, Malaysia ke-48, Thailand ke-66 dan Vietnam pada posisi ke-104. Data ini memberikan gambaran bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya yang mulai menapaki masa-masa pembangunan ekonomi yang kurang lebih sama.

Kedua, keberadaan investasi asing langsung (foreign direct investment) dan kerja sama pembangunan dengan negara-negara industri selama beberapa dekade terakhir tidak banyak mendorong perkembangan inovasi yang signifikan. Hal ini merefleksikan urgensinya kesiapan semua pemangku kepentingan bagi pengembangan teknologi inovasi dan kreativitas yang bersifat mandiri.

Ketiga, Indonesia berada dalam posisi “darurat prestasi”pengembangan inovasi dan iptek dalam pembangunan ekonomi nasional. Laporan Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) 2012 membuka mata bahwa peran inovasi dan Iptek dalam perekonomian ternyata masih di bawah negara-negara tetangga.

Sebagai satu instrumen utama pertumbuhan dan daya saing ekonomi, urgensi transformasi organisasi dan masyarakat yang berbasis inovasi dan kreativitas juga bisa dilihat dalam konteks penuntasan persoalan kemiskinan di Indonesia.

Mari kita sedikit telisik peta kemiskinan kita. Data statistik menunjukkan bahwa tingkat angka kemiskinan di Indonesia masih relatif signifikan. Per September 2012, jumlah penduduk miskin mencapai 28,59 juta orang (11,66%), dengan perincian jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 10,51 juta orang sementara di perdesaan mencapai 18,08 juta orang. Dalam rentang waktu satu dekade terakhir, penduduk miskin rata-rata masih mencapai 14,92%. Diukur dari indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan pun menunjukkan kecenderungan kenaikan. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar.  Dengan melihat situasi sosio-ekonomis seperti ini, transformasi organisasi dan masyarakat yang berbasis inovasi dan kreativitas menjadi tantangan tersendiri dalam penyelesaian isu kemiskinan.

Nilai tantangan juga bisa dilihat dalam kerangka globalisasi ekonomi. Mari kita sitir kembali kritik Joseph Stiglitz, pemenang Hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2001 terhadap globalisasi ekonomi. Stiglitz menegaskan bahwa globalisasi ekonomi yang diartikan sebagai penghapusan segala penghalang perdagangan dan integrasi semua perekonomian nasional dapat menjadi kekuatan berharga yang berpotensi memakmurkan setiap orang di seluruh dunia, khususnya rakyat miskin. Namun demikian, cara pengelolaan globalisasi selama ini, termasuk di dalamnya segenap persetujuan perdagangan multilateral yang berperan penting dalam penghapusan segenap penghalang perdagangan dan kebijakan yang diberlakukan terhadap negara-negara berkembang perlu diubah secara total.

Globalisasi sudah seharusnya dapat menciptakan pertumbuhan yang dapat dinikmati secara lebih merata bagi semua orang. Dalam konstelasi seperti ini, inovasi dan kreativitas untuk menopang daya saing ekonomi nasional menjadi satu kunci sukses integrasi ekonomi Indonesia secara global berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan. Untuk menuju ke sana, kesiapan segenap pemangku kepentingan baik aktor sosial maupun kelembagaan perlu mentransformasikan diri dengan basis inovasi dan kreativitas menjadi taruhan penting.
****


KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000