Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

Rekonstruksi Kebijakan Pendidikan Nasional
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
KEDAULATAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI PEMBANGUNAN INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013
Oleh : Marzuki Alie Center
INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
Komitmen Antikorupsi Parlemen ASEAN
Oleh : Oleh Dr. H. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

RESENSI

Asia Future Shock

Images

JUDUL:Asia Future Shock
PUBLISHER:Ufuk Press
WRITER:Asia Future Shock karya Michael Backman
CONTENT:Buku ini, mencatat problem pembangunan di masing-masing negara di Asia. China memiliki catatan sebagai negara yang hampir 1,5 milyar jumlah pendudukanya pada tahun 2030. Kerepotan terhadap jumlah penduduk ini, pemerintah menyiasati dengan kewajiban hanya memiliki satu anak pada satu keluarga. Akibatnya adalah makin berkurangnya jumlah penduduk berusia muda, paling tidak ini akan terus terjadi 10-20 tahun mendatang. Banyak orang akan mendapati bahwa negara China akan menjadi negara yang makin menua, yang berakibat pada produktivitas sumberdaya manusia (SDM), yang akhirnya berpengaruh pada peningkatan pembangunan negara ini.

Ironisnya, permasalahan ini juga dialami oleh banyak negara maju di Asia Timur, seperti Jepang dan Korea selatan. Di Korea Selatan, malah lebih parah lagi, negara ini tidak sampai 10 tahun lagi akan makin menua dengan jumlah penduduk tua yang tidak seimbang dengan jumlah kelahiran. Tercatat bahwa pada 2050, rakyat Jorea Selatan yang berusia di atas 50 akan lebih banyak daripada yang berusia dibawah 50 tahun. Di negara ini pula, jumlah jumlah perceraian meningkat, hal ini akibat banyak perempuan yang mampu bekerja dan mandiri, sehingga tidak tergantung pada suami atau kaum laki-laki. Akibatnya jumlah penduduk usia muda juga menurun akibat perceraian ini. Banyak komentar yang menilai bahwa, orang-orang Korea ini bekerja seperti mesin, berangkat ke pabrik-pebrik di pagi-pagi buta, dan pulang pada tengah malam, sehingga mereka sangat disibukkan oleh aktivitas bekerja dan melupakan kesejahteraan keluarga mereka.

Jepang yang 99,4% penduduknya adalah etnis Jepang akan segera menghilang. Lebih dari 25 juta penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun, padahal hanya 18 juta yang berumur di bawah 15 tahun. Ketimpangan angka kematian dan kelahiran ini akan segera berbalik, dari puncak jumlah penduduk sekitan 127 sampai 128 juta penduduk dan akan mengalami penurunan terus menerus. Jepang dicatat sebagai negara maju pertama yang mengalami penyusutan jumlah penduduk ini. Institute of Population and Social Security Research Jepang meramalkan bahwa populasi akan turun menjadi 92 juta dan 108 juta penduduk pada tahun 2050.

Singapura juga mengalami hal sama. Pertumbuhan penduduk negara ini justru minus. Keasyikan bekerja dan berkarier bagi perempuan dan lelaki di sana, melupakan aktifitas humanisnya, bahkan sedikit sekali keluarga yang muncul dari para anak muda, hubungan seks-pun kecil. Sampai-sampai, pemerintah Singapura harus mengajari mereka berhubungan dengan lawan jenis dan menghadiahi mereka yang berkeluarga dan memiliki anak. Pada 2004, intensif pajak dan subsidi yang bertujuan mendorong terbentuknya keluarga yang lebih besar, diperkirakan bernilai setara dengan 0,5% PDB Singapura. Pemerintah juga sedang berusaha menarik kembali kaum tua ke dalam dunia kerja, ini akibat menurunnya julah anak muda. Tercatat bahwa di Singapura, tingkat partisipasi warga tua dalam angkatan kerja mencapai angkta tertinggi dalam sejarah sejak tahun 2006. hampir 44% dari warga yang berusia 60-64 ikut terjun dalam angkatan kerja baru, bandingkan dengan 32% pada 1996.

Problem demografi atau jumlah penduduk ini juga disadari oleh India. India yang kultur penduduknya masih kental pada nuansa tradisional, akan menghadapi banyak persoalan. Seperti halnya di Jepang dan Korea, begitu pula China yang mengahruskan satu keluarga-satu anak, masih memiliki keinginan lahirnya anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Frustasi terhadap lahirnya anak perempuan berakibat pada tidak seimbangnya jumlah perempuan dan laki-laki. Akhirnya tercatat di belahan Asia, ketidakseimbangan itu adalah untuk setiap 1000 anak laki-laki yang dilahirkan di India dan China, 900 anak perempuan dilahirkan, dan ini mengakibatkan banyaknya perawan tua yang sulit mencari jodohnya. Dalam buku ini ditulis judul; Dicari! 250 juta Istri, Mengejutkannya Ketimpangan Gender di Asia.

Tetapi, India terus berusaha keras merubah jumlah SDM ini menjadi kekuatan ekonomi yang baik. India memang memiliki problem demografi yang tidak sederhana. India yang jumlah pendudukanya mendekati satu milyar orang masih terjebak pada ketimpangan kaya-miskin yang sangat mencolok. Namun, harapan mereka terhadap pembangunan di masa depan tetap kuat. Hal ini bila kita merujuk pada jumlah angkatan muda yang masih cukup banyak dan memiliki peluang untuk mengganti generasi tua yang ada. Teknologi Informasi (IT), lambat-laun mereka kuasai, hingga kini Bengalore, salah satu wilayah kumuh India sudah menjadi lembah silikon, yaitu tempat tumbuh berkembangnya pemuda-pemuda yang menguasai IT dan menjadi menyedot perhatian dunia. India sedang juga sedang memperkuat basis pendidikan rakyatnya. Sebab, jika dilihat dari anggaran pendidikannya, India terlalu sedikit membelanjakan untuk pendidikan sebagaimana negara ini membelanjakan untuk infrastruktur. India terlalu sedikit memiliki sekolah bisnis yang bagus.

Sementara itu, negara yang memiliki catatan baik terhadap kemajuan Asia di masa mendatang adalah Vietnam. Sekarang saja, Vietnam sudah menjadi salah satu negara yang perekonomiannya terbuka di Asia. Bagi Vietnam, pemerintahannya termasuk yang mengejar model kebebasan ekonomi dengan sedikit kebebasan politik. Dengan perdagangan, Vietnam menyumbang proporsi PDB yang jauh lebih tinggi dari China dan India. Hal ini juga disokong oleh jumlah angkatan kerja Vietnam yang masih muda. Juga Burma, negara ini diramalkan akan segera menjadi Vietnam baru menuju China baru. Di Burma tercatat saat ini memang negara yang kacau. Tetapi, kelak negara ini akan seperti Vietnam dengan catatan bahwa Burma memiliki yang tak dimiliki Vietna. Pembangunan akan terus datang, meski sanksi-sanksi ekonomi yang dipimpin AS akan terus membelenggu ekonomi mereka. Banyak negara yang bersedia berinvestasi, termasuk China, India, Rusia, Thailand dan Singapura.

Namun, sebenarnya tidak semua negara-negara di Asia yang memiliki catatan harapan yang baik akan mudah meraik kesuksesan di masa datang. Malaysia akan menghadapi kendala krusial, ketika negara ini masih berkutat pada 'pembangunan separuh hati', yaitu tatkala previlege terhadap pembangunan ekonomi hanya diperuntukkan pada penduduk Melayu, melupakan pendatang yang kebanyakan dari India dan China. Padahal pertumbuhan ekonomi Malaysia, sebenarnya amat didukung oleh kelas menengah dan buruh dari berbagai negara, tak terkecuali dari Indonesia. Maka, tidak aneh jika setelah berakhirnya kekuasaan yang memanjakan warga Melayu, yang direpresentasikan oleh Mahattir Muhammad, mereka segera berdemo menuntut kesetaraan ekonomi dengan penduduk Malaysia lain. Kesetaraan yang dituntut ini seringkali berwujud pada fasilitas dan kesempatan yang sama terhadap kegiatan-kegiatan politik, sosial dan ekonomi dengan perduduk Melayu.

Dalam catatan penulis, menerangkan bahwa jika tuntutan ini tak berhasil maka Malaysia akan segera terjebak pada problem rasial. Slogan Malaysia Boleh, akan segera menjadi Malaysia Bodoh, yang tak mampu mempertahankan kemajuan dan pembangunan mereka. Harapan Malaysia antara lain terletak di tangan Anwar Ibrahim, yang sedang berjuang membuka kran demokrasi di Malaysia.

Sementara, catatan yang mengulas mengenai Indonesia, tak kalah pesimisnya. Judul di buku ini; Masih Adakan Indonesia? Bulan-bulan pertama di tahun 2007, di Indonesia teramat mengerikan. Peristiwa jatuhnya pesawat Garuda milik negara terjadi hanya beberapa minggu setelah peristiwa jatuhnya pesawat lai, tenggelamnya dua kapal feri besar, dan beberapa kereta keluar dari rel. Beberapa kelemahan mengungkapkan cacat lain; misalnya, nama beberapa korban jatuhnya Garuda bahkan tidak ada dalam daftar penumpang, mereka mencantumkan nama lain di tiketnya saat terbang.

Mencerminkan bahwa pemabangunan di Indonesia akan terus mengalami kesulitan akibat menjauhnya para investor. Masalah korupsi yang akut, membuat biaya investasi menjadi sangat mahal. Akutnya masalah korupsi di Indonesia ini, sering disindir bahwa upah di Indonesia rendah, tetapi negara ini adalah tempat yang tinggi untuk berbisnis. Alasan sebenarnya adalah ruwetnya mengurus segala sesuatu. Transparansinya rendah, yang berarti bahwa ketidakjelasan juga tinggi. Terlalu banyak pihak yang berkepentingan dalam mempertahankan transparansi yang rendah ini. Semakin banyak ketidakjelasan, semakin banyak peluang bagi para ”konsultan” dan ”fasilitator” untuk menjejalkan diri membantu orang-orang bisnis mengarungi kekacauan.

Indonesia, negara yang mayoritas penduduknya sama dengan penduduk rata-rata di Asia Tenggara, yaitu muslim, memiliki kecenderungan yang kadang sulit difahami. Kekerasan dan faham beragama kadang juga memunculkan masalah yang bukan tidak mungkin akan membuat investor makin terhantui. Belakangan kasus agama yang kembali memecah konsentrasi bangsa ini adalah kasus Ahmadiyah, kekerasan di Monas yang menyusul berbagai kasus lain, seperti terorisme dan lainnya, yang berlangsung beberapa tahun pasca Reformasi. Terkonsentrasinya penduduk Indonesia di Jawa khususnya Jakarta membuat ketimpangan yang dasyat. Ketimpangan sosial-ekonomi ini juga diperparah dengan berbagai kasus akibat ketidaksiapan daerah menerapkan demokrasi langsung/Pilkada. Di departemen dalam negeri, banyak masalah Pilkada yang menggantung, yang tak jarang justru membuat biaya demokrasi menjadi mahal. Catatan penting dari penulis adalah masih sangat sulit memprediksi kemajuan Indonesia.

Catatan-catatan terhadap beberapa negara di Asia menunjukkan bahwa bagaimanapun persoalan yang sedang dihadapi, grafik jangka panjangnya adalah Asia memnag sedang bangkit. Hanya saja rutenya tidak berupa garis lurus, dan perekonomian Asia tidak bangkit dnegan kecepatan yang sama. Mereka sama sama memahami bahwa bagaimanapun juga, demokrasi adalah penting karena sudah membangun perekonomian yang baik. Namun, tidak ada perekonomian Barat yang benar-benar demokratis sebelum menjadi sangat kaya. Asia juga akan mengetahui hal itu.

Masalah penegakan hukum di Asia akan segera membaik, meski di sebagian lainnya masih lemah. Adalah Internet, yang mau-tak mau akan membuka krak transparansi dimana-mana, sehingga muncul pola pertumbuhan baru di Asia: kebebasan dengan kontrol politik. Internet, sebenarnya dimaksudkan untuk menggoyahkan rezim-rezim. Dalam dasawarsa mendatang, internet akan menjadi alat yang ampuh untuk mencari data dan menghancurkan. Sementara itu, gelombang informasi yang lebih besar yang dibawa internet akan membuat Asia sanggup meraih keuntungan, secara ekonomi, yang besar. China telah memelopori hal ini. Sekarang saja, China hanya dikalahkan AS dalam hal pengguna internet. Mereka sudah mengembangkan firewall yang sangat restriktif di sekeliling internet. Sementara itu, pengekor China adalah Vietnam, Burma, Thailand, Singapura dan Malaysia.

Satu lagi yang akan segera bangkit di Asia adalah peningkatan kekuatan militer dan perkembagan nuklir. China kini tengah melipatgandakan pengeluaran militernya, meski masih belum sebanding dengan AS. Embargo senjata atas China yang dipimpin AS mendorong China untuk membagun industri senjata teknologinya sendiri. Minat militeristisnya, telah bergeser dari politis ke komersial. Perlu dicatat bahwa, China ingin melindungi pelayaran dan investasinya di luar negeri dan mengirim 4000 tentara China ke Sudan untuk melindungi investasi minyaknya di sana.

Sementara itu, meningkatnya kebutuhan terhadap sumberenergi dunia, China juga mengembangkan nuklir sebagai pembangitnya. 16% dari seluruh energi yang dihasilkan dunia berasal dari sumber-sumber nuklir. Di China, angkanya adalah 2,0% dan India 2,8%. India dan China memang sedang berupaya mendiversifikasikan sumber energi mereka. Dalam jangka panjang, India meningkatkan produksi energi nuklirnya menjadi 25-30% dari total produksi energi 2050. India berharap akan memiliki 47 reaktor nuklir dalam waktu dekat, yang semuanya dimiliki dan dioperasikan oleh Nuclear Power Corporation of India.

Melihat perkembangan 2-3 dekade mendatang, yang nampak akan cepat berubah, bangsa-bangsa Asia akan cepat membuat kabur perbatasan-perbatasan negara mereka. Perbatasan Asia menjadi tidak penting lagi, manakala jutaan imigran ilegal dari negara-negara di Asia akan bergerak. Wisatawan, ekspatriat, dan mereka yang melakukan perjalanan bisnis memang cenderung memperhatikan perbatasan, tetapi dalam banyak kejadian, penduduk lokal justru tidak. Dan yang patut kita tunggu adalah, Asia akan cepat berubah di masa datang.*
Masad Masrur


KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000