Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

Rekonstruksi Kebijakan Pendidikan Nasional
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
KEDAULATAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI PEMBANGUNAN INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013
Oleh : Marzuki Alie Center
INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
Komitmen Antikorupsi Parlemen ASEAN
Oleh : Oleh Dr. H. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

RESENSI

Krisis Islam: The Crisis of Islam, Holy War and Unholy Terror

Images

JUDUL:Krisis Islam: The Crisis of Islam, Holy War and Unholy Terror
PUBLISHER:Ina Publikatama, Ina Publikatama
WRITER:Bernard Lewis
CONTENT:BERNARD LEWIS, lahir di Inggris, merupakan Professor di Pusat kajian Timur Dekat, Emeritus Cleveland E. Dogde di Universitas Princeton. Ia telah menulis lebih dari duapuluh buku. Yang paling terkenal di antaranya adalah The Arabs in History, The Emergence of Modern turkesy, The Assasins, The Muslim Discovery of Europe, The Midle East: 2000 Years of History from the Rise of Cristianity to the Present Day dan yang terkini, What Went Wrong?.

What Went Wrong? Ditulis Lewis dan diterbitkan sebelum terjadi peristiwa 11 September, jadi tulisan itu memberikan gambaran sejarah hubungan pasang surut Timur-Barat sejak khalifah pasca Nabi Muhammad kemudian masa kegemilangan dan kemunduran Islam hingga sebelum 11 September. Dalam buku The Crisis of Islam, Holy War and Unholy Terror ini, Lewis memperbaiki tulisannya dengan menampilkan hubungan Timur-Barat (baca Islam dan Kristen) mutakhir.

Di dalam buku pertamanya setelah What Went Wrong? Lewis menganalisis akar sejarah munculnya kebencian terhadap Barat yang mendominasi dunia Islam saat ini dan yang semakin sering diwujudkan dalam berbagai tindakan teror. Ia mengupas cikal-bakal teologi Islam politik hingga bangkitnya Islam militan di Iran, Mesir, dan Arab Saudi, serta menganalisis dampak dari ajaran Wahhabi yang radikal, dan uang hasil minyak Arab terhadap seluruh dunia Islam.

The Crisis of Islam, Holy War and Unholy Terror atau Krisis Islam, Antara Jihad dan teror yang keji ini mencakup bahasan sejarah sejak abad XIII, namun secara khusus buku ini menggambarkan peristiwa–peristiwa utama di abad ke-20 mulai dari pembentukan negara Israel, Perang Dingin, Revolusi Iran, kekalahan Soviet di Afghanistan, Perang Teluk, hingga serangan 11 September di Amerika.

Walau kebencian terhadap Barat memiliki sejarah yang panjang dan beragam di negara-negara Islam, perasaan tersebut yang diarahkan ke Amerika merupakan hal yang baru. Demikian juga tindakan bom bunuh diri. Meskipun bukan hal yang sama sekali baru, mengingat namun ini adalah fenomena terkuat yang terjadi yang memberikan gambaran baru hubungan Timur dan Barat: antara jihad dan melawan teroris yang keji.

Presiden Bush dan para politisi Barat lainnya telah berupaya keras meyakinkan bahwa perang yang mereka lakukan adalah perang melawan terorisme -bukan perang melawan bangsa Arab, atau bahkan secara luas, melawan kaum Muslimin, yang juga diminta untuk turut serta dalam perang melawan musuh bersama ini. Sementara itu, upaya yang dilakukan oleh Usamah bin Ladin adalah sebaliknya. Bagi Usamah dan para pengikutnya, ini merupakan perang agama, perang bagi Umat Islam melawan kaum kafir, dan oleh karena itu, sudah pasti, melawan Amerika Serikat, yang merupakan kekuatan terbesar kaum kafir di dunia.

Dalam pernyataannya, Usamah sering merujuk pada sejarah. Salah satu pernyataannya yang paling dramatis dalam rekaman videonya pada tanggal 7 Oktober 2001 adalah mengenai “penghinaan dan stigma” yang Islam harus derita selama “lebih dari delapan puluh tahun.” Kebanyakan pengamat Timur Tengah dari Amerika -dan tentu saja dari Eropa- mulai giat meneliti sesuatu yang telah terjadi “lebih dari delapan puluh tahun” yang lalu, dan mereka memperoleh jawaban yang beragam. Kita percaya saja bahwa para penyimak Usamah -yaitu orang-orang yang mendengarkan pidatonya- bisa langsung menangkap perujukan tersebut dan memahami signifikansinya.

Perujukan sejarah seperti yang dibuat oleh Usamah bin Ladin, yang sepertinya sulit dipahami oleh banyak orang Amerika, merupakan suatu hal yang biasa di kalangan muslim, dan dapat dipahami hanya dalam konteks dan cara pandang orang Timur Tengah mengenai identitas dan terhadap latar belakang sejarah Timur Tengah. Bahkan bagi orang Barat yang berusaha memahami Timur Tengah kontemporer, konsep mengenai sejarah dan identitas tersebut perlu didefinisikan kembali. Dalam kaidah penggunaan bahasa di Amerika sekarang, ungkapan “that’s history” (itu kan sejarah) biasanya digunakan untuk menolak sesuatu sebagai hal yang tidak penting dan tidak relevan dengan keadaan saat ini.

Dari tahun 1930-an, penemuan dan eksploitasi minyak serta perkembangan ibukota Saudi, Riyadh, dari sebuah kota oasis kecil menjadi sebuah metropolis besar telah membawa banyak perubahan dan mengundang kedatangan orang asing dalam jumlah besar, sebagian besar adalah orang Amerika, yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan bangsa Arab.

Kehadiran mereka, yang oleh banyak orang masih dipandang sebagai pelecehan, barangkali menjadi alasan semakin besarnya rasa kebencian. Arab sempat terancam sebentar oleh para prajurit Salib pada abad ke-12 Masehi. Setelah kekalahan dan pengusiran mereka, ancaman bagi Arab dari kaum kafir selanjutnya muncul di abad ke-18, dengan bersatunya kekuatan Eropa di Asia Selatan dan kehadiran kapal-kapal bangsa Eropa, atau dengan kata lain, kaum Nasrani, di pantai-pantai Arab. Dampak kemarahan yang muncul adalah ditiupkannya kembali paling tidak salah satu unsur dalam penegakkan agama di Arab oleh gerakan Wahhabi dan dipimpin oleh Majelis Saud (dalam bahasa Arab, Su’ud), para pendiri negara Saudi. Selama periode pengaruh Anglo-Perancis dan kemudian dominasi di Timur Tengah pada abad ke-19 dan ke-20, kekuatan penjajah menguasai Mesir, Irak, Syria, dan Palestina. Mereka menggerogoti di perbatasan Arab, di Aden dan di Teluk Persia, walaupun mereka dengan cukup bijak tidak membangun militer dan keterlibatan politik yang sedikit dalam berbagai masalah di semenanjung itu.

Sepanjang keterlibatan asing tersebut semata-mata bersifat ekonomi, dan selama manfaatnya lebih dari cukup untuk mengurangi ketidakpuasan, kehadiran asing dapat ditolerir. Tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini pokok-pokok kesepakatannya telah berubah. Dengan jatuhnya harga minyak dan meningkatnya jumlah populasi dan pengeluaran, manfaat yang dirasakan tidaklah mencukupi lagi; ketidakpuasan semakin meningkat dan lebih nyaring terdengar. Keterlibatan mereka juga tidak dibatasi pada kegiatan-kegiatan ekonomi.

Revolusi di Iran, ambisi Saddam Hussein, dan provokasi dari semua masalah di kawasan tersebut, yaitu konflik Israel­Palestina, telah menambah dimensi politik dan militer dalam hal keterlibatan asing, dan semakin mendorong munculnya teriakan “imperialisme” yang digaungkan. Pada saat Tanah Suci mereka dilibatkan, banyak kaum muslim akan cenderung mendefinisikan perjuangan, dan kadang juga musuh, dari sudut pandang agama dan memandang prajurit Amerika yang dikirim untuk membebaskan Kuwait dan menyelamatkan Arab Saudi dari Saddam Hussein sebagai para penyerbu dan penjajah kafir. Persepsi ini semakin dipertegas oleh kekuasaan Amerika yang tak tertandingi diantara negara-negara kafir lainnya.

Bagi kebanyakan orang Amerika, deklarasi Usamah merupakan pelecehan, distorsi dari hakikat dan tujuan keberadaan Amerika di Arab. Mereka seharusnya juga mengetahui bahwa bagi kebanyakan, atau barangkali sebagian besar muslim, deklarasi tersebut merupakan pelecehan yang paling buruk terhadap hakikat Islam, dan bahkan terhadap doktrin jihadnya. Al-Qur’an menjelaskan tentang perdamaian dan juga perang. Ratusan ribu Sunnah dan Hadits Rasul, dengan tingkat keshahihan yang berbeda, yang diinterpretasikan kadang dengan cara yang sangat beragam, memberikan banyak sekali panduan, yang salah satunya adalah interpretasi yang militan dan keras terhadap agama.

Sementara itu, sebagian besar muslim menyetujui interpretasi ini, walaupun hanya sedikit dari mereka yang inelaksanakannya. Terorisme memerlukan hanya segelintir orang. Jelas, Barat harus melindungi dirinya dengan cara apapun yang efektif. Tetapi dalam rangka mengembangkan cara-cara melawan para teroris, memahami alasan-alasan yang mendorong para teroris tersebut melakukan aksinya pasti akan bermanfaat.

Sebagian besar umat Islam bukanlah fundamentalis, dan sebagian besar fundamentalis bukanlah teroris, namun sebagian besar teroris sekarang adalah muslin dan mereka dengan bangga mengakui diri mereka sebagai muslim. Dapat dipahami, kaum muslimin protes ketika media mengatakan gerakan-gerakan dan perbuatan-perbuatan teroris sebagai gerakan dan perbuatan ‘Islam’ dan mempertanyakan kenapa media tidak juga menyamakan teroros dari Irlandia dan Basque sebagai teroris ‘Kristen”. Jawabannya sederhana dan jelas mereka tidak menyatakan diri mereka sebagai teroris Kristen.

Ada beberapa bentuk aliran ekstrimisme Islam pada saat ini. Yang paling populer adalah kelompok radikalisme subversif Al-Qaida dan kelompok-kelompok yang lain yang seperti itu di seluruh negara muslim; fundamentalisme preemtif di negara Saudi; dan revolusi yang terlembagakan dalam rezim Iran yang berkuasa. Semuanya, dalam beberapa hal, berasal dari Islam, namun beberapa dari mereka telah menyimpang sangat jauh dari ajaran Islam.

Semua kelompok ekstremis yang berbeda ini membenarkan perbuatan mereka dengan merujuk pada teks-teks Islam terutama Al-Quran, Sunah Rasul dan ketiga kelompok ekstrimis tersebut mengklaim mewakili Islam yang lebih benar, lebih murni, dan lebih otentik dibanding dengan yang saat ini dijalankan oleh sebagian besar mayoritas Islam dan yang disetujui oleh sebagian besar, walau tidak semua, pemimpin agama. Namun para pemuka agama tersebut sangat selektif dalam pilihan dan interpretasi mereka terhadap teks-teks suci.

Dalam mempertimbangkan hadits rasul, contohnya, mereka tidak menggunakan metode lama yang dikembangkan oleh para ahli hadits dan teolog yang menguji keakuratan dan keaslian tradisi yang disampaikan secara lisan (talaqi) dan bahkan sebaliknya menerima atau menolak teks-teks suci berdasarkan apakah teks-teks tersebut mendukung atau bertentangan dengan posisi dogmatis dan militan mereka.

Dalam buku ini Bernard Lewis berusaha memberikan gambaran lewat catatan sejarah bahwa pendekatan yang dilakukan muslim dalam perang tidak berbeda jauh dengan yang ada dalam Kristen atau agama Yahudi di masa yang sangat lampau atau sangat modern ketika pilihan perang ini terbuka bagi mereka. Namun Lewis belum bisa membuktikan bahwa Kristen lebih benyak berperang ‘internal’ memerangi mereka yang dipandang sebagai penghasut atau pelaku bid’ah, disbanding Islam yang lebih banyak memerangi musuh untuk memasukkannya ke dalam golongan Islam.

Tak lepas dari beberapa keterangan yang ‘cukup baik’ –sebaik apapun seorang orientalis tidak bisa obyektif memandang Islam, Lewis telah memberikan gambaran bahwa beginilah Barat memandang Timur (Islam) sekarang.***

Oleh Masad Masrur Dipublikasikan di Jurnal Elcendikia, Vol. 1 No. 1 April 2006.


KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000