Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

Rekonstruksi Kebijakan Pendidikan Nasional
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
KEDAULATAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI PEMBANGUNAN INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013
Oleh : Marzuki Alie Center
INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
Komitmen Antikorupsi Parlemen ASEAN
Oleh : Oleh Dr. H. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

RESENSI

Mengurai Permasalahan Bangsa dan Negara

Images

JUDUL:Mengurai Permasalahan Bangsa dan Negara
PUBLISHER:Johans Foundation dan Negarawan Center
WRITER:Johan O. SIlalahi
CONTENT:Dilihat dari judul buku, buku ini sangat optimis, sebab tentu saja mengurai permasalahan bangsa Indonesia sekaligus mencari solusinya yang kompleks, tidak cukup hanya dengan menelaah sebuah buku kecil (+ 360-an halaman) yang memuat banyak bab dengan uraian yang amat ringkas.

Tak dapat dipungkiri, bahwa permasalahan bangsa ini amat kompleks. Bahkan dalam berbagai diskusi dan seminar, paling tidak ada 10 masalah bangsa yang saat ini membelit dan membutuhkan penyelesaian. Yaitu, ekonomi, korupsi, kemiskinan, pengelolaan BBM, sistem pendidikan, sempitnya lapangan kerja, mahalnya harga pangan,  bencana alam, kelaparan dan krisis pangan, serta bahkan disebut pula krisis kepemimpinan. Berbagai permasalahan ini tentu membutuhkan energi dan pemikiran yang luas, dan juga dibutuhkan sinergi yang tepat agar permasalahan bangsa ini tidak sekedar “diketahui” dan ditemukan cara pemecahannya, namun juga segera dilakukan “eksekusi” menyelesaikan permasalahan secara efektif, efisien dan bertanggung jawab.

Namun, sebagai pembaca, saya sangat apresiasi terhadap penulis yang telah memulai membuka wacana dan mengidentifikasi permasalahan bangsa dan negara.

Buku ini terdiri dari 8 bab yang mencakup berbagai hal yang diidentifikasikan agar dapat difikirkan secara bijaksana ala negarawan sejati. Bab I (Konsep dan Tujuan Negara), mengkritisi berbagai hal mengenai partai politik dan sistem multipartai yang terbukti kurang efektif dalam mencapai stabilitas berdemokrasi. Sistem multipartai dinilai justru membawa kearah “politik biaya tinggi” yang menjerumuskan para pelaku politik kepada perilaku korupsi dan bermuara pada terbentuknya negara kleptokrasi (negeri para pencuri). Di era reformasi ini, dinilai masih ada praktek otoritarianisme oleh elite bangsa kita, atau era reformasi adalah “kemasan baru era orde baru”.

Bab II (Karakter dan Budaya Manusia Indonesia) mengkritik tentang perilaku  “manusia Indonesia baru” yang masih terjebak pada perilaku yang egois-individualistis, konsumtif-materialistis, hedonis, dan munafik-oprtunistis. Manusia Indonesia telah lupa dengan budaya adiluhung bangsa dan pentingnya membangun karakter bangsa dengan bertumpu pada peningkatan dayasaing masyarakat.

Bab III (Masalah Bangsa Kita), menyebutkan bahwa para politisi kita sebaiknya berbisnis dahulu sebelum memulai menjadi politisi. Sebab politik adalah pengabdian, keuntungan dari bisnis itulah yang mestinya diabdikan pada negara, baik melalui pajak maupun kepada partai politik pilihannya. Ongkos politik bangsa ini cukup besar, sehingga keteladanan politisi sangat penting. selain itu, kesenjangan pendidikan dan isu SARA masih menjadi persoalan di negeri ini. Solusinya adalah perombakan sistem yang dikawal terus oleh sumberdaya manusia yang baik.

Bab IV (Pemimpin Bangsa), mengakui bahwa pemimpin ideal (dengan plus-minusnya) justru Soekarno dan Soeharto. Namun, penulis juga mengakui bahwa keteladanan pemimpin itu penting berikut etika kepemimpinan yang dikembangkannya.

Bab V (Sejarah Jangan Berulang), menyoroti kebijakan Orde Lama yang mengangkat Presiden Soekarno seumur hidup, meski gagal, namun “tidak mengangkat” Soeharto sebagai presiden seumur hidup meski kenyataannya ia berkuasa lebih dari 30 tahun. Kedua hal ini muncul akibat tidak adanya “balance of power”, sehingga kedepan rakyat Indonesia tetap diberikan kebebasan untuk menentukan wakilnya di lembaga-lembaga negara.

Bab VI (Masalah Peka tapi Perlu Terbuka), mengurai sedikit beberapa masalah yang sering muncul namun jarang dibicarakan dan dicari solusinya, seperti masalah mayoritas-minoritas, konflik antaretnis, ekonomi rakyat, korupsi, dan hubungan negara-agama. Menurut penulis, penyebab korupsi antara lain: moral yang lemah, kebutuhan hidup yang mendesak, kultur organisasi yang salah, lemahnya penegakan hukum, apatisme masyarakat, kekeliruan pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai sosial, dan sifat rakus dan tamak. Praktik pejabat yang KKN, penulis berharap agar kita tidak terperangkap pada kesimpulan yang tergesa-gesa. Tidak bisa asal pukul rata. Ada pejabat publik yang pohon bisnisnya tumbuh berkat usaha keras dan sudah dibangun sebelum menjadi pejabat. Sikap wirausaha seperti ini mestinya lebih dijunjung tinggi.

Bab VII (Pemimpin Negara yang Semestinya), selain memaparkan tentang idealnya seornag pemimpin, bab ini juga menekankan pemimpin untuk perlu peka (concered), empati, memiliki rasa kasihan (pity) sekaligus bela-rasa (compassions) terhadap orang lain. Penulis memberikan contoh pemimpin: Adam smith (1723-1790), seorang filusuf moral dan sosial, sekaligus perintis disiplin ilmu ekonomi modern asal Skotlandia. Dan Tompal Dorianus Pardede (191601991) sebagai “Menteri Berdikari”: Menteri diperbantukan pada Menteri Koordinator Kompartemen Perindustrian Rakyat untuk Berdikari pada Kabinet Dwikora II era tahun 1966.

Bab VIII (Siapa yang Mulai dan bagaimana Memulainya?), intinya menjelaskan bahwa pemimpin itu “dijadikan oleh rakyat”, dan bukan ada dengan sendirinya. Pemimpin harus mampu menggerakkan elit bangsa dan agenda elit bangsa harus sama dengan agenda rakyat yang dijanjikannya waktu kampanye. Bab ini juga mengutip sedikit tentang ciri negara maju, mislanya, tentang: kriteria teknologi, angka kelahiran dan kematian, angka pengangguran, intensitas mobilitas tinggi, pendapatan rata-rata penduduk, kemandirian bangsa dan sifat kebangsaan.

Sebenarnya, buku ini cukup baik untuk memulai mendiskusikan tentang masalah bangsa dan negara, sayangnya buku ini tidak ada kesimpulannya, bahkan sekedar penutup pun, juga tidak ada. Dengan demikian, buku ini memang hanya sekedar buku bacaan semata.**


KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000

Moneristo
Juli 16 2013 , 05:39
Masalah yang mendasar bukan itu semua.Mari kita belajar dari penalaman